Wahyudi, Pejuang Literasi dari Gunung Guci Wonogiri

Wahyudi, Pejuang Literasi dari Gunung Guci Wonogiri

Kemendikbud — Sosoknya kurus, penampilannya bersahaja, dan bicaranya pelan.

Namun di balik itu semua, Wahyudi menyimpan cita-cita yang tinggi. “Mimpi saya ingin membuat taman bacaan di 25 kecamatan yang ada di Kabupaten Wonogiri,” ujarnya dalam acara Festival Literasi Indonesia di Kuningan Jawa Barat, Kamis (7/9/2017).

Mimpinya tersebut dilatarbelakangi keprihatinan melihat warga di desanya yang kurang peduli dengan pendidikan anak-anak mereka. “Angka putus sekolah di desa kami tinggi. Banyak anak-anak yang tidak meneruskan sekolahnya karena ketidakadaan biaya,” ujar pemuda anak penjual pecel tersebut.

Langkah awal Wahyudi untuk mendirikan taman bacaan dimulainya awal tahun 2014,

saat ia bekerja di Jakarta. Ia yang saat itu bekerja sebagai penjaga pos polisi di depan patung kuda Monumen Nasional Jakarta menyisihkan sebagian gajinya untuk membeli buku. “Gaji saya tidak besar, setiap gajian saya beli buku, dua sampai tiga buku,” kata pria yang akrab dipanggil Yudi tersebut.

Ia juga punya cara unik untuk menambah koleksi bukunya. Ia sering mengajak teman-temannya untuk menonton acara Kick Andy di Studio MetroTV yang selalu membagikan buku-buku gratis kepada para penonton di studio. Ia juga sering mendatangi paguyuban masyarakat Wonogiri di Jakarta untuk meminta bantuan buku.

Bahkan motor kesayangannya terpaksa ia gadaikan untuk membeli buku-buku. “Sampai saat ini motor saya tersebut belum bisa ditebus,” kenangnya sambil tertawa.

Bandung, sebuah dusun kecil di kaki Gunung Guci Wonogiri. Taman bacaan yang ia beri nama Rumah Baca Sang Petualang (RBSP) diresmikan tanggal 23 Juli 2015 bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional.

Selama menjalankan rumah baca tersebut, ia mendapat sambutan positif dari warga kampung, terutama yang tinggal di pedalaman. “Bukan minat bacanya yang kurang, tapi akses ke bahan bacaan yang kurang,” katanya.

Warga kampungnya dan kampung-kampung terdekat mulai mendorong anak-anak mereka untuk berkegiatan di RBSP. Di rumah baca ini selain diajak berkegiatan membaca dan belajar mengajar mereka juga diajak untuk melakukan berbagai kegiatan kreatif seperti menulis, membuat berbagai kerajinan, dan lain-lain.

Kiprahnya akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengundangnya untuk menjadi pelopor program Kampung Literasi mewakili wilayah Kabupaten Wonogiri. Legalisasi kegiatannya berhasil ia urus berkat bantuan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Sambil mengurus rumah baca, ia juga terus menciptakan inovasi untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Ia menggagas ‘Ndhog Dadar Pustaka’ yaitu inovasi kegiatan menumbuhkan minat baca khususnya untuk anak-anak sekolah.

Yudi mengajak seorang temannya bernama Temon, yang bekerja menjadi pengumpul barang bekas untuk membantu berjualan telur goreng keliling sambil membawa buku bacaan. Anak-anak yang membeli telur goreng bisa mendapat fasilitas membaca buku gratis. Dan ini sedikit berhasil menarik minat anak-anak untuk sekedar melihat bahkan membaca buku yang dibawanya.

Setelah berhasil membuat Ndhog Dadar Pustaka, ia pun berusaha menciptakan inovasi lain yaitu Burger Pustaka. Konsepnya sama Ndhog Dadar Pustaka, namun dengan dagangan yang berbeda.

Inovasi-inovasi kegiatan inilah yang akhirnya membawa Yudi menuju istana Negara. Tanggal 28 April 2017 Yudi mendapat telepon yang datangnya dari Sekretariat Negara. Telepon itu merupakan undangan makan siang bersama Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2017.

“Begitu haru dan bahagia. Ini apresiasi dari negara, undangan kehormatan yang jarang didapat untuk kalangan masyarakat biasa ini menjadi sebuah anugrah bagi saya,” pungkas Yudi. (Nur Widiyanto)

 

Sumber :

https://merkterbaik.com/